KUNJUNGAN IBU TITIEK SOEHARTO KE TESSO NILO: DORONG PEMULIHAN HABITAT GAJAH DAN PENDEKATAN HUMANIS BAGI MASYARAKAT

Gambar
Riau, 17 Maret 2026 - Ketua Komisi IV DPR RI, Ibu Titiek Soeharto bersama Kapolri, Bapak Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Kehutanan, Bapak Raja Juli Antoni melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Tesso Nilo. Kunjungan ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam mempercepat pemulihan kawasan konservasi sekaligus menyelamatkan populasi gajah Sumatera yang kian terancam. Rombongan meninjau langsung Camp Elephant Flying Squad serta Pusat Latihan Gajah di Kabupaten Pelalawan. Kehadiran lintas sektor legislatif, eksekutif, dan aparat penegak hukum menjadi simbol kuat sinergi nasional dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kapolri menegaskan bahwa Polri siap mendukung penuh kebijakan Presiden dalam merehabilitasi kawasan Tesso Nilo yang mengalami alih fungsi lahan cukup masif. Dari total sekitar 81 ribu hektare, kawasan tersebut ditargetkan dipulihkan agar kembali menjadi habitat alami gajah Sumatera. “Habitat gajah harus dikembalikan agar populasinya dapat berkembang dengan baik,...

BUKAN HANYA PUSPA PESONA, ANGGREK BULAN 'BIKIN' PRESIDEN PRABOWO HINGGA BU TITIEK SOEHARTO TERPUKAU

 

Tahukah kamu? Bunga Anggrek adalah keluarga tumbuhan berbunga terbesar di dunia dengan lebih dari 25.000 spesies, bijinya merupakan yang terkecil di dunia, dan beberapa jenisnya bisa hidup hingga 100 tahun. Indonesia termasuk negara yang memiliki spesies bunga Anggrek, ada sekitar 5.000-6.000 yang tersebar di beberapa daerah seperti Sumatera, Jawa, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. 

Salah satu Bunga anggrek yang tersebar luas di Indonesia adalah Bunga Anggrek Bulan. Anggrek bulan dikenal sebagai sang ratu anggrek. Anggrek Bulan pertama kali ditemukan di Ambon, Maluku pada tahun 1750. Bunga Anggrek Bulan memiliki warna utama yaitu warna putih, akan tetapi Anggrek bulan juga hadir dalam berbagai warna yang memukau, berikut penjelasan dan makna berbagai warna Bunga Anggrek Bulan:

  1. Putih: Kemurnian, kesucian, ketulusan hati, keanggunan, dan kerendahan hati.
  2. Merah Muda: Cinta yang lembut, kasih sayang, dan kelembutan.
  3. Ungu: Kemewahan, kekuasaan, penghormatan, dan kekaguman.
  4. Kuning: Kebahagiaan, persahabatan, keceriaan, dan optimisme.
  5. Merah: Gairah, cinta yang mendalam, keberanian, dan kekuatan.
  6. Orange: Kegembiraan, antusiasme, keberanian, dan semangat.
  7. Biru: Kelangkaan, keunikan, keindahan, spiritualitas, kedamaian, dan ketenangan.
  8. Hitam: Misteri, kekuatan, sensualitas, dan godaan. Sebenarnya bunga ini berwarna ungu tua atau merah anggur yang sangat pekat. 

Pecinta anggrek bulan datang dari berbagai kalangan, salah satunya adalah Ibu Negara ke 2, Ibu Tien Soeharto (Istri dari Presiden Soeharto). Ibunda dari Ibu Titiek Soeharto ini memiliki jasa besar sebagai pelestari dan yang membudidayakan bunga anggrek di Indonesia. Bukti nyatanya adalah  Ibu Tien dan Yayasan Harapan Kita menggagas pendirian Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) di TMII sebagai pusat pelestarian anggrek Nusantara. Anggrek bulan sering dihubungkan dengan Ibu Tien Soeharto, dijadikan Puspa Pesona Indonesia dan menjadi simbol keindahan flora nusantara.

Tak heran jika ada keturunan Ibu Tien Soeharto yang ikut melestarikan dan mengagumi keindahan Anggrek Bulan, salah satunya adalah Ibu Titiek Soeharto. Setiap acara apapun, seperti perayaan Ulang Tahun, Pembukaan usaha dan perayaan lainnya Ibu Titiek Soeharto pasti melibatkan bunga anggrek sebagai hiasan indah ruangan, bunga anggrek yang terlihat selalu terpajang adalah jenis Anggrek Bulan.


Bukan hanya pada saat acara, bahkan di setiap tempat milik Ibu Titiek Soeharto pasti didalamnya terdapat anggrek bulan yang terpajang dan tersusun rapi, yang terlihat seperti di Rumah yang ada di Jl. Teuku Umar Menteng, di Waroeng Kopi Klotok cabang Cisarua dan Bali.

Sebagai Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi Pertanian, Lingkungan Hidup, dan Kehutanan, Ibu Titiek Soeharto berada di garis depan dalam merumuskan kebijakan yang menyentuh langsung nasib tanaman-tanaman berharga Indonesia. Anggrek Bulan, sebagai Puspa Pesona kebanggaan nasional, menjadi representasi sempurna dari tantangan dan peluang di sektor florikultura:

  1. Dukungan untuk Petani Anggrek: Peran beliau adalah mengawal kebijakan yang memudahkan akses modal, teknologi pembibitan (kultur jaringan), dan perluasan pasar bagi para pembudidaya Anggrek Bulan, agar keindahan ini tidak hanya dinikmati segelintir orang, tetapi juga mensejahterakan petani.
  2. Jembatan Konservasi dan Ekonomi: Melalui komisi yang dipimpinnya, Anggrek Bulan menjadi contoh bagaimana konservasi (pelestarian plasma nutfah) dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan. Spesies anggrek endemik harus dilindungi, sementara varietas hibrida dikembangkan untuk pasar komersial.

Dengan latar belakang keluarga yang memiliki sejarah panjang dalam kecintaan terhadap anggrek (diwarisi dari almarhum Ibu Tien Soeharto), keterlibatan Ibu Titiek Soeharto di Komisi IV menjadi sebuah jaminan bahwa perhatian terhadap Anggrek Bulan akan terus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional, memastikan si "Bulan" ini tetap bersinar di kancah domestik dan internasional.

Phalaenopsis amabilis adalah nama ilmiah dari Anggrek Bulan, salah satu spesies anggrek Phalaenopsis yang terkenal dan populer. Nama “amabilis” berasal dari bahasa Latin yang berarti “mengagumkan” atau “memikat”, menggambarkan keindahan bunga-bunga anggrek ini. Phalaenopsis amabilis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1800an oleh ahli botani asal Belanda bernama Dr. C.L. Blume, ia berhasil mengembangkannya hingga Anggrek Bulan bisa ditemukan di beberapa wilayah lain.

Bunganya memiliki bentuk yang elegan dengan kelopak yang luas dan berwarna putih atau warna lainnya. Di bagian tengah kelopak, terdapat bibir bunga yang berbeda dengan warna dan pola yang lebih menonjol. Bibir bunga biasanya memiliki warna kuning, merah, atau ungu dengan bintik-bintik atau corak menarik.

Di Indonesia, Bunga Anggrek Bulan adalah salah satu dari tiga Bunga Nasional dan ditetapkan sebagai “Puspa Pesona” melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993. Filosofi Anggrek Bulan mencakup keindahan, kemurnian, keanggunan, dan ketahanan, serta kesabaran dan ketekunan dalam pertumbuhannya. Bunga ini juga melambangkan cinta yang abadi, keberuntungan, kesuksesan, dan kekayaan dalam berbagai budaya.

Anggrek Bulan selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah dan budaya Indonesia. Keindahan ini tidak hanya dihargai secara estetika, tetapi juga diakui secara politik dan ekonomi. Jika para Anditians perhatikan, acara kenegaraan dulu hingga sekarang ini selalu melibatkan tiga bunga nasional (Melati Putih, Anggrek Bulan dan Rafflesia Arnoldi)  sebagai hiasan di setiap sudut ruangnya. Presiden Indonesia saat ini, Bapak Prabowo Subianto juga ternyata salah satu pecinta Anggrek Bulan lho, hal itu terlihat di beberapa momen formal/nonformal di rumah pribadinya terdapat hiasan Anggrek Bulan dengan berbagai warna.

Terdapat momen unik dan lucu juga datang pada saat hari ulang tahun Presiden Prabowo Subianto yang banyak menerima kiriman bunga, salah satunya adalah bunga jenis Anggrek Bulan yang warna-warni. Momen lucu itu datang dari akun tiktok @gerindra yang menuliskan komentar di salah satu postingan video jejeran bunga anggrek di halaman Rumah Kertanegara 4 milik Bapak Prabowo Subianto, “Yang ultah bapak, yang happy ibu” candaan lucu dari admin @gerindra. Walaupun harum dari anggrek bulan tidak terlalu mencolok seperti melati putih, akan tetapi dari bentuk, warna dan keindahannya yang mencuri perhatian mata.


Menarik bukan pembahasan tentang Puspa Pesona ini? Jadi kapan nih, para Anditians mau mulai koleksi bunga-bunga lokal Indonesia? Biar ikut terus melestarikan Flora Nusantara seperti yang dicontohkan oleh Ibu Titiek Soeharto. Ditunggu pembahasan selanjutnya tentang Flora Nusantara yahh, see you in the next part!

Editor: SR dan TM



Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBU TITIEK SOEHARTO HADIRI TAKLIMAT DEWAN PEMBINA PARTAI GERINDRA

PERAN AKTIF IBU TITIEK SOEHARTO DALAM RAPAT PARIPURNA

LAYAK KAH BAPAK SOEHARTO MENDAPAT GELAR PAHLAWAN? BERIKUT PERJUANGANNYA