IBU TITIEK SOEHARTO SOROTI STOK BERAS LAMA BULOG DAN DORONG PERCEPATAN SWASEMBADA PANGAN DALAM PEMBAHASAN ANGGARAN 2027
Jakarta, 10 Juni 2026 – Ketua Komisi IV DPR RI, Ibu Titiek Soeharto, memimpin rangkaian rapat pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP) K/L Tahun Anggaran 2027 bersama mitra kerja Komisi IV DPR RI di Gedung Komisi IV DPR RI Senayan.
Kegiatan diawali dengan Rapat Dengar Pendapat bersama Kepala Badan Karantina Indonesia untuk membahas rencana program, kebutuhan anggaran, serta arah kebijakan lembaga tersebut dalam mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Selanjutnya, Ibu Titiek Soeharto memimpin Rapat Kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian RI, Bapak Andi Amran Sulaiman beserta jajaran Kementerian Pertanian. Rapat tersebut dilaksanakan secara bersamaan dengan agenda Rapat Dengar Pendapat bersama Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), mengingat kedua agenda menghadirkan pimpinan yang sama. Pelaksanaan secara bersamaan ini dilakukan untuk mengefisienkan waktu serta mempercepat pembahasan RKA-K/L dan RKP K/L Tahun 2027.
Dalam rapat tersebut, Ibu Titiek Soeharto menyoroti persoalan cadangan beras pemerintah yang tersimpan terlalu lama di gudang Perum Bulog. Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap mekanisme pengelolaan stok agar kualitas beras tetap terjaga dan perputaran cadangan pangan berjalan lebih efektif.
Ibu Titiek mengungkapkan berdasarkan data yang diterimanya, terdapat sekitar 1,3 juta ton beras dengan usia simpan satu hingga satu setengah tahun dari total stok yang tersedia. Menurutnya, penyimpanan beras terlalu lama berpotensi menyebabkan penurunan mutu sehingga perlu ada langkah penyelesaian yang tepat.
“Ini saya baru minta nih data ke staf Bapak, bukan saya ngarang-ngarang. Yang umur satu tahun sampai satu setengah tahun itu cukup tinggi, ada 1,3 juta ton,” - Ibu Titiek Soeharto
Ibu Titiek menegaskan agar stok beras yang sudah terlalu lama tidak digunakan sebagai bantuan pangan apabila kualitasnya sudah tidak optimal. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan bantuan pangan yang diberikan kepada masyarakat tetap memenuhi standar kualitas.
“Jadi tolong diperhatikan lagi stoknya supaya berputarnya lebih cepat lagi. Bantuan-bantuan kalau memang jangan sampai ada lagi, yang di atas satu tahun, satu setengah tahun itu dijadikan pakan saja,” - Ibu Titiek Soeharto
Selain membahas persoalan stok beras, Ibu Titiek juga memberikan perhatian terhadap upaya percepatan swasembada bawang putih nasional. Ia mempertanyakan keberlanjutan program pengembangan bawang putih agar tidak hanya menjadi target tahunan, tetapi memiliki langkah konkret menuju kemandirian produksi dalam negeri.
“Saya mau tanya lagi mengenai bawang putih, Pak Menteri. Kenapa kok tidak masuk lagi di program kerja prioritas nasional?” - Ibu Titiek Soeharto
Ibu Titiek menekankan bahwa ketergantungan terhadap impor bawang putih harus segera dikurangi karena komoditas tersebut merupakan kebutuhan penting masyarakat. Ia meminta Kementerian Pertanian menetapkan target yang jelas mengenai waktu pencapaian swasembada bawang putih.
“Jadi kita harus sepakat semua, harus swasembada. Bapak harus bikin targetnya, kapan mau swasembada?” - Ibu Titiek Soeharto
Melalui pembahasan RKA-K/L dan RKP K/L Tahun 2027 tersebut, Komisi IV DPR RI menegaskan pentingnya penguatan tata kelola pangan nasional, mulai dari pengelolaan cadangan pangan pemerintah, peningkatan produksi dalam negeri, hingga percepatan program swasembada komoditas strategis.
EDITOR: NS


Komentar
Posting Komentar