PESONA WASTRA NTT (NUSA TENGGARA TIMUR) DALAM GAYA BERBUSANA IBU TITIEK SOEHARTO
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dalam setiap penampilan publiknya, Ibu Titiek Soeharto selalu dikenal sebagai sosok yang anggun dan konsisten mengangkat kekayaan budaya Indonesia. Hal itu kembali terlihat dalam acara Himpunan Ratna Busana bertajuk "Mengenal Wastra, Busana, Budaya, dan Kuliner Nusa Tenggara Timur” yang digelar pada 10 Mei 2025. Di acara tersebut, Ibu Titiek hadir dengan balutan kain tenun khas perempuan Suku Rote, sebuah pilihan yang menunjukkan penghargaan mendalam terhadap warisan tekstil Nusantara.
Suku Bangsa Terbesar di NTT (Nusa Tenggara Timur)
NTT (Nusa Tenggara Timur) pada tahun 2025 memiliki keragaman etnis yang sangat kaya, dengan lebih dari 45 suku, termasuk Dawan, Manggarai, Sumba, Rote, Sabu, Lamaholot, Sikka, Ende, Helong, dan Alor Pantar, yang mendiami berbagai wilayah dari Pulau Timor hingga Flores dan pulau-pulau kecil lainnya, mencerminkan kekayaan budaya yang dijaga lewat berbagai upacara dan warisan budaya tak benda yang terus diakui.
Menurut data demografis terakhir, yakni dari BPS dan survei lokal tahun 2023/2025. Berikut penjelasannya :
Suku Dawan: Tersebar di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan sebagian Timor Barat.
Suku Manggarai: Mendiami bagian barat Pulau Flores (Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat).
Suku Sumba: Menghuni Pulau Sumba.
Rote: Berada di Pulau Rote dan Ndao.
Suku Sabu (Dou Hawu): Tinggal di Pulau Sabu/Savu.
Suku Lamaholot: Tersebar di wilayah Flores Timur, Lembata, dan sebagian Alor.
Suku Sikka: Menempati Kabupaten Sikka (Flores Timur).
Suku Ende (Ende Lio): Berada di Kabupaten Ende.
Suku Helong: Mendiami wilayah sekitar Kupang dan Pulau Semau.
Suku Alor Pantar: Menempati Kepulauan Alor.
Ciri Khas Baju Adat Suku Rote
Pakaian adat untuk laki-laki juga ditandai dengan pemakaian habas (kalung berbandul gong), dan topi anyaman (Ti’i langga) dari daun lontar yang mirip topi sombrero dari Meksiko.
Sementara itu, pakaian adat perempuan Rote biasanya dilengkapi dengan Selembang,, Habas (perhiasan yang dipakai dibagian leher), Bula Molik (Mahkota bulan sabit), dan Pendi (ikat pinggang dari perak/emas).
Kain Tenun NTT (Nusa Tenggara Timur) di Tangan Seorang Pencinta Wastra
Wastra Nusantara selalu memiliki ruang istimewa bagi Ibu Titiek. Beliau bukan sekadar mengenakan kain tradisional, tetapi juga memaknainya sebagai jembatan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas. Pada acara ini, ia memilih tenun NTT (Nusa Tenggara Timur) kain yang terkenal dengan motif geometris, simbol adat, serta proses pewarnaan alami yang sarat tradisi.
Kain tersebut tampil sebagai bawahan atau bagian utama busananya, harmonis dipadukan dengan kebaya atau atasan modern yang mencerminkan perpaduan elegan antara tradisi dan gaya masa kini. Pilihan ini menegaskan bahwa tenun tradisional tetap relevan dan dapat tampil istimewa di berbagai kesempatan formal.
Simbol Cinta pada Warisan Bangsa
Penampilan Ibu Titiek dengan tenun dari NTT (Nusa Tenggara Timur) bukan sekadar soal estetika. Ini adalah bentuk penghormatan kepada para penenun daerah khususnya perempuan NTT yang menjaga tradisi menenun sebagai warisan turun-temurun. Melalui penampilannya, ia memberi ruang bagi tenun NTT untuk dikenal, diapresiasi, dan dicintai oleh lebih banyak orang, terutama generasi muda.
Menghidupkan Identitas Nusantara Lewat Busana
Sebagai salah satu tokoh yang aktif mempromosikan wastra Indonesia, Ibu Titiek Soeharto kembali menunjukkan perannya sebagai penjaga nilai-nilai budaya. Cara beliau memadukan tenun NTT (Nusa Tenggara Timur) dengan busana kontemporer membuktikan bahwa melestarikan budaya bukanlah nostalgia masa lalu, tetapi upaya menghidupkan tradisi agar tetap relevan di masa kini.
Melalui busananya, Ibu Titiek mengajak masyarakat untuk bangga menggunakan kain buatan bangsa sendiri sebuah tindakan sederhana, namun memiliki makna kebangsaan yang besar.
Dari panggung Himpunan Ratna Busana, Ibu Titiek Soeharto kembali menegaskan komitmennya dalam mengangkat martabat wastra Indonesia. Tenun NTT (Nusa Tenggara Timur) yang ia kenakan bukan hanya elemen busana, tetapi juga simbol cinta, kepedulian, dan dedikasi terhadap budaya bangsa.
Dengan tampil anggun mengenakan wastra daerah, Ibu Titiek menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya kaya akan alam dan sejarah, tetapi juga kaya akan identitas identitas yang hidup dalam setiap helai kain tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor: NR
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya



Komentar
Posting Komentar