AIR MATA, PELUKAN, DAN HARAPAN IBU TITIEK SOEHARTO MENEMBUS DUKA BANJIR PIDIE JAYA
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sabtu, 29 November 2025 - Di tengah lumpur, puing rumah, dan dinding-dinding yang runtuh di Pidie Jaya, Aceh. Terlihat kedatangan para Pejabat tinggi negara, yang menempuh jalur udara menggunakan helikopter dari Banda Aceh menuju lokasi bencana. Rombongan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Bapak Syafrie Syamsudin, hadir juga Ibu Titiek Soeharto bersama putranya Mas Didit Prabowo, serta Menteri Dalam Negeri Bapak Tito Karnavian. Setibanya di lokasi, mereka langsung menyusuri Gampong Blang Awe, salah satu wilayah yang luluh lantak diterjang banjir.
Area tersebut hampir hilang dari bentuk aslinya, karena wilayah ini yang paling terdampak banjir paling parah, jembatan dan seluruh jalannya terputus. Aksi terjun langsung ini dilakukan sebagai bentuk respons cepat pemerintah dalam memastikan penanganan darurat berjalan dengan baik serta kebutuhan masyarakat terpenuhi dan tepat sasaran. Selain itu, tindakan langsung menyapa korban di pengungsian menjadi bentuk nyata sebagai sesama manusia untuk menyalurkan rasa empati ke manusia lain yang sedang mengalami kemalangan.
Momen haru mulai terjadi pada saat Bapak Syafrie dan Ibu Titiek Soeharto berdialog langsung dengan para pengungsi untuk mengetahui aspirasi mereka.
"Ibu-ibu sekalian mau apa sekarang?" tanya Bapak Syafrie dengan nada penuh empati.
Merespons pertanyaan tersebut, warga secara spontan menyampaikan kebutuhan mendesak mereka yang meliputi:
- Perbaikan atau pembangunan kembali rumah yang rusak.
- Pasokan makanan yang cukup.
- Pakaian layak pakai.
- Obat-obatan dan akses kesehatan.
Mendengar jawaban tersebut, Menhan langsung menginstruksikan Panglima TNI Bapak Agus Subiyanto agar bantuan logistik segera dikirimkan secepatnya ke wilayah terdampak banjir, tidak hanya di Aceh, tetapi juga mencakup wilayah terisolir di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Ibu Titiek juga duduk di antara ibu-ibu yang masih mengenakan pakaian seadanya, mendengarkan suara-suara bergetar yang menceritakan kehilangan. Tidak ada protokoler kaku, yang ada hanya empati yang mengalir di antara mereka.
“Bu… rumah kami habis. Tolong bangunkan kami rumah, jembatan, jalan… semua hilang.” nada penuh haru dan tangis diucapkan oleh Bu Eliana salah satu korban banjir. Ibu Titiek dengan rasa empati yang tinggi langsung memegang erat tangan Bu Eliana seraya menyalurkan energi semangatnya bahwa kalian tidak sendirian.
Pandangan Ibu Titiek juga tertuju ketika melihat bayi yang sepertinya baru lahir karena kulitnya masih merah. Ibu Titiek memastikan bahwa bayi bisa diberikan perawatan kesehatan secara baik oleh tenaga kesehatan ditempat.
“Wahh masih merah” tegun Ibu Titiek Soeharto sambil mengusap pipi si bayi.
Ketika menyapa warga yang terdampak banjir, tak sedikit warga yang tersedu. Bahkan dari Ibu Titiek Soeharto sendiri tampak beberapa kali menyeka air mata ketika melihat langsung keadaan di tempat dan mendengar langsung rintihan para korban.
“Sabar ya ibu, bapak… insya Allah kami akan bantu,” kata Ibu Titiek Soeharto dengan nada penuh haru. Ucapan ini tentu menjadi harapan dan semangat baru untuk para korban banjir bahwa pemerintah tidak melepas begitu saja melihat warga yang sedang terluka.
“Kami butuh rumah, jalan, dan jembatan,” terdengar suara serak dari seorang bapak yang berdiri di rumahnya yang sudah hilang setengah. Dengan tatapan lama dan penuh haru, Ibu Titiek Soeharto menyampaikan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Lagi dan lagi kalimat berbalut harapan terdengar di seluruh sudut pengungsian.
Ibu Titiek Soeharto juga meninjau langsung rumah-rumah warga yang hancur diterjang banjir. Ditengah perjalanan banyak warga yang meminta foto dengan beliau, hal ini bukan bentuk bersenang-senang pada saat duka, melainkan menjadi penguat bahwa para warga tidak sendirian, akan selalu ada uluran tangan dari orang-orang yang peduli.
Tidak ada kata-kata yang diucapkan, tapi rasa empati tulus yang disalurkan Ibu Titiek Soeharto terasa meresap untuk warga dan tempat sekitar. Dibalik runtuhnya rumah, rusaknya jembatan dan terputusnya jalanan masih akan ada genggaman tangan, walau tidak menetap tapi setidaknya bisa menyembuhkan luka sedikit demi sedikit.
Hari itu bukan tentang jabatan petinggi negara dan rakyatnya, akan tetapi tentang rasa manusiawi, hati, dan rasa empati yang datang untuk merasakan dan menyembuhkan mereka yang sedang terluka.
Editor : TM
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya



Komentar
Posting Komentar